Bagaimana Cara Kerja Roller Bearing?

Bearing atau bantalan bisa dikatakan sebagai komponen yang paling banyak ditemukan di sektor industri terutama roller bearing. Jenis bearing yang juga sering dikenal dengan nama rolling element bearing ini dapat ditemukan di berbagai jenis mesin elektronik, gearbox, hingga sistem conveyor. Pada dasarnya, jika sebuah poros butuh berputar, poros tersebut akan didukung oleh roller bearing. Hanya saja, orang-orang sering keliru bahwa struktur dasar dari komponen yang satu ini dapat bervariasi berdasarkan pengaplikasiannya.

Roller bearing terdiri atas dua bagian yang dipisahkan oleh sekelompok roller, yang bentuknya menentukan load dari sebuah bearing yang dapat ditanggung, beserta kebutuhan pelumas atau lubrikasinya. Untuk memahami bagaimana cara kerja dari roller bearing, Anda juga perlu mengetahui jenis-jenisnya terlebih dulu. Pasalnya, beda jenis, beda juga cara kerjanya, meskipun perbedaannya terlihat tidak signifikan. Meski begitu, perbedaan tersebut sebenarnya memengaruhi pemilihan jenis roller bearing yang digunakan pada sebuah mesin.

Jenis Roller Bearing dan Cara Kerjanya

  1. Ball bearing.

Salah satu jenis roller bearing yang umum ditemukan di pasaran adalah ball bearing. Jenis bearing yang satu ini tersedia dalam berbagai ukuran, material, dan finishing sehingga sangat fleksibel dalam penggunaannya. Bola-bola yang terdapat pada ball bearing akan bergulir di antara kedua bagian tanpa memerhatikan arahnya.

  1. Cylinder roller bearing.

Kemudian, ada cylinder roller bearing yang terdiri atas dua silinder, dan kedua bagian tersebut dibentuk mirip seperti kaleng minuman, yang bergulir pada sisi-sisinya di tempat. Kedua silinder tersebut hanya dapat bergulir pada satu titik tumpu, yang membuatnya berbeda dari ball bearing karena bola pada ball bearing dapat bergulir ke segala arah.

  1. Spherical roller bearing.

Di samping ball bearing dan cylindrical roller bearing, ada juga spherical roller bearing, yang sekilas punya bentuk yang serupa dengan cylindrical roller bearing. Hanya saja, terdapat satu pengecualian yang membedakan keduanya, yaitu bentuk spherical roller bearing yang melengkung pada bagian tengah sehingga bentuknya tidaklah sepenuhnya silinder karena sisi kedua silinder tidak paralel satu sama lain. Dengan desain seperti ini, spherical roller bearing punya lebih banyak permukaan yang bertemu langsung dengan permukaan bagian dari bearing.

  1. Needle roller bearing.

Sementara itu, needle roller bearing memiliki diameter yang lebih kecil dibandingkan jenis-jenis roller bearing lainnya, plus ukuran yang lebih panjang. Bentuknya silinder sempurna, tapi lebih panjang dan tipis sehingga menyerupai jarum (needle dalam bahasa Inggris).

  1. Tapered roller bearing.

Sedangkan untuk jenis roller bearing yang satu ini, salah satu ujungnya punya diameter dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan ujung satunya sehingga membuat bentuknya sekilas menyerupai bentuk corong/cone. Karena itulah jenis roller bearing yang satu ini mampu bergulir secara diagonal, sehingga mampu menanggung baik itu beban axis maupun radial.

Dengan jenis dan bentuk yang berbeda-beda, pemasangan roller pun dapat bervariasi. Misalnya, beberapa jenis bearing bisa jadi hanya dipasang dalam satu baris, tapi ada juga yang pemasangannya dilakukan dalam beberapa baris. Kemudian, ada juga beberapa jenis bearing yang pemasangannya menggunakan wadah/kurungan untuk memisahkannya dari komponen bearing lainnya. Lalu, ada juga seal/sil yang juga dipasang pada bearing. Keseluruhan komponen tersebut memberikan pengaruh signifikan pada fungsionalitas dan umur pakai bearing.

Rolling bearing bekerja dengan cara kerja yang memampukan komponen ini agar dapat menerima beban dalam jumlah besar. Hanya saja, beban thrust yang dapat ditanggung rolling bearing terbilang terbatas. Nah, kekurangan tersebut dapat diantisipasi dengan penggunaan tapered rolling bearing yang lebih bisa menanggung beban thrust maupun beban radial yang besar. Oleh karena itulah beda jenis roller bearing, beda pula cara kerja dan pengaplikasiannya.